7.09.2023

Book Review: Hello, Cello by Nadia Ristivani

Synopsis:

Jatuh cinta lagi?
Hmm, sepertinya itu tak ada lagi dalam kamus Helga. Kegagalannya dalam cinta dan selalu disakiti cowok, membuatnya merasa cukup! Untuk apa mengulangi semuanya lagi dari awal?

Sebagai seorang penulis, Helga selalu mengabadikan hal berkesan di hidupnya dalam bentuk buku. Dan di tengah proses penulisan buku keenamnya, ia dipertemukan dengan 'buaya' tampan- Cello.

Cello yang awalnya ingin mendekati Una- seorang gadis populer di kampusnya, justru terjebak dan makin dekat dengan Helga yang aneh dan ajaib karena sering berpikir dan bersikap terlalu random.

Namun siapa sangka, Cello malah makin penasaran dengan gadis yang hatinya membeku itu. Baginya, Helga merupakan sosok yang 'unik' dan belum pernah ia jumpai. Mampukah Cello, menaklukkan hati Helga?


Review:

I swear on my life, I've never been so excited for a book to arrive like EVER. Ini buku adaptasi AU pertama yang gue baca, yang langsung gue check out the moment I finished reading it. Terakhir gue sejatuh cinta itu sama karakter fiksi adalah when i was in 9th grade, gue sesuka itu sama karakter Matahari Senja by Esti Kinasih. Gue inget banget, I was so in love with the character sampe gue bikin playlist isinya lagu which remind me of Ari. Mungkin didukung dengan ada persamaan nama sama mantan gue dulu (lol), tapi pokoknya dulu gue sesuka itu. TAPI gue udah sayonara sama Ari, karena sekarang udah ada Cello. TMI, ini ke Cello gue juga sampe bikin playlist di Spotify HAHAHA.

Overall, buku dan AUnya gak banyak perbedaan. Plot dan karakternya sama jadi mungkin gak akan jauh beda sama review AUnya. Mungkin, di buku ini plotnya lebih detail aja. Ada beberapa scene -contohnya scene di lift, yang gak ada di AU tapi bikin ceritanya lebih make sense. Gue masih amaze sama cara Nadia bawa plot ceritanya dengan sangat mulus dan minim to zero plot holes. Seinget gue, konfliknya juga masih sama kaya yang di AU, tapi entah kenapa baca book versionnya malah lebih sedih woy?? Pas scene rooftop gue nelangsa sendiri bacanya ikutan mau nangis. Narasi pas after konser Tulus juga lebih nyelekit, perasaan sama tapi beda feelnya. OH sama scene pas Helga pulang kerumah terus ada temen-temen nyokapnya... gila bener-bener mau gue gampar aja maknya si Helga!!

Nadia sukses bikin gue bingung! Sampe detik ini, gue udah beli beberapa novel dari adaptasi AU atau Wattpad. Biasanya gue either prefer bukunya (mostly) atau AU/Wattpad versionnya. Kaya AU 'Terpikat', itu gue beli buku karena gue suka banget banget sama AUnya, tapi ternyata bukunya gak sesuai ekspektasi. Atau kaya 'Hilmy Milan', gue prefer bukunya dibanding AUnya. Tapi 'Hello, Cello' sukses bikin gue dilema, karena gue bener-bener gak bisa milih lebih suka yang mana. Dibilang lebih suka buku, ada beberapa scene di AU yang gak ada di buku tapi gue suka banget sampe nyariin di bukunya. Dibilang lebih suka AU, jujur gue lebih sering reread bukunya dibanding AUnya. Jadi intinya, ini cerita mau versi apa aja, gue tetep cinta banget dan akan reread terus.

Perbedaan paling mencolok ada dua: scene wishlist Helga yang di breakdown satu-satu, dan Camarro's Party dimana pertama kalinya Helga dateng dan jadi plus one-nya Cello. Tapi sebenernya, mau lo baca AU atau bukunya gue rasa gak begitu ngaruh perbedaannya karena sama sama bagus. Ada satu quote dari Cello yang mau gue spoiler disini: "I'm brutally in love with you. God gave me you and I want nothing after", KAYA?? ini harus di spoiler karena even lo gak bisa beli bukunya, at least lo harus tau se-romantis apa Marcellio Este!! Ini definisi buku yang isinya cuma bikin senyum-senyum sendiri. Gue baca ini buku ini udah 5x dalam rentang waktu setahun, terakhir baca di cafe pula, but it seems like I still can't hold myself back untuk gak senyum-senyum liat sikap Cello dan gak ngakak liat tingkah Helga.  

Sama persis kaya versi AU, I'll rate 10/10 for this one, if not ∞/10.

7.08.2023

Book Review: Hilmy Milan by Nadia Ristivani

Synopsis

Kata Milan, bukanlah laki-laki sempurna yang kecerdasannya melebihi Einstein, ketampanannya melampaui Leonardo DiCaprio, atau kekayaannya menyetarai Steve Jobs yang seorang wanita butuhkan. Itu memang bonus yang diidam-idamkan. Namun sebetulnya, bukan itu poin utamanya. Yang wanita butuhkan adalah kesediaan. Bersedia untuk selalu mengerti dan memahami, bersedia untuk menenangkan tanpa bertanya, dan kesediaan untuk mencintai tanpa memaksakan.

Kata Hilmy, duniamu masih terlalu sempit kalau berpikir mencintai adalah tentang hubungan timbal balik. Jika selalu begitu-memaksa memiliki seseorang yang dicintai, fase kehilangan seseorang yang belum pernah dimiliki akan selalu terulang, terus terulang. Biarkan semuanya mengalir seperti yang ditorehkan catatan takdir. Tak perlu memaksa semesta bergerak terlalu cepat, atau terlalu lambat. Semua ada porsinya masing-masing.

Cinta itu bukan tentang hal-hal rumit. Kuncinya hanya satu, selalu satu. Nyaman.

Alternate Universe on Twitter Review: Fickle & Brittle by moonblvrd


 

"Fickle as you are, cause I'm brittle at the parts"

Fickle & Brittle



Review:

YOU GUYS!! This is a MUST-READ Alternate Universe!!

Serius baca ini kaya baca novel tapi versi AU twitter, bukan kaya AU twitter yang dijadiin novel. Penulisannya, plotnya, karakternya, make this AU is one of the best AU ever written so far. 

AU ini ditulis dari dua sudut pandang, tapi mostly emang dari sudut pandang female character. Sudut pandang yang cowok hanya di bagian narasi dan group chat basket aja, tapi tweet semua dari sudut pandang si cewek, bikin kita bener-bener ngerasa di posisi si cewek lol. 

Osvaldo Hosea... the boy that you are. He is seriously the greenest walking redflag I've ever read. Hosea, or he preferred called hose -face claim Haechan NCT, adalah Point Guardnya SMA NEO 1. Dia dideskripsikan sebagai pemain basket handal yang ambisius dan paham strategi. Ganteng, tapi bukan yang paling ganteng. Orang berada, tapi bukan tajir melintir. Gak pinter akademik, but you can give him an A++ for his basketball skill. Gue suka banget sama Hose, karena karakternya yang cukup realistis. Dari awal AU juga lo udah bisa nebak kalo dia udah lama nyimpen perasaan sama female leadnya, cuma berlindung dibalik kata "sahabat" karena sikap ceweknya yang terkesan gak punya perasaan yang sama. 

Genesis Riever, the introvert girl yang temennya bisa dihitung jari. Dia tipe cewek yang anxious kalo bersosialisasi, dia juga punya penyakit asma jadi bener-bener gak bisa ditempat yang crowded dan berisik. Rie ini cuma bisa jadi diri sendiri di depan Papa Iwan (kakeknya) dan Hose. Di awal AU keliatan Rie udah naksir Hose, tapai keliatan juga dia berusaha untuk denial sampe ke pertengahan cerita. Kalo kata Hose, Rie ini cantik banget. Tapi kalo dari cara si author ngedeskripsiin Rie, dia tipe cewe cantik yang masih normal kadar kecantikannya.

Ceritanya dimulai ketika mereka udah hampir 3 tahun temenan. Kalo authornya gak mention dia temenan hampir 3 tahun atau kalo lo gak baca sampe habis, pasti kalian ngira mereka childhood bestfriend dari cara hose yang kayanya udah kenal Rie banget banget. Dari awal baca, udah keliatan se'merah' apa si Hose. Tapi pas masuk scene dia dan Rie somehow bikin gue ngerasa "ANJRIT PACARAN GAK LU BERDUA???". Gue gak mau spoiler hal-hal kecil yang Hose lakuin ke Rie yang bikin gue ngerasa asdhasufasyd, kalian harus baca sendiri!!

The detail of the story is what makes it one best AU I've ever read. Banyak narasi AU atau novel yang bikin kita ngantuk pas baca, but this one put the details with the perfect amount. Kaya hal-hal kecil yang Hose notice atau lakuin buat Rie, atau tentang hubungan Rie sama kakeknya yang gak banyak di bahas tapi cukup detail sampe pembacanya paham. Kondisi keluarga dari Hose dan Rie juga gak dijelasin di setiap part, tapi cukup jelas jadi gak bikin gue bertanya-tanya. Kalo dipikir-pikir, ini AU almost like a slice of life genre, karena konfliknya mencakup di semua aspek kehidupan, tapi kenapa gak berasa berat ya pas baca?

The slowburn is 10 out of 10. Angsty tapi gak bikin anxious. Plotnya rapih banget, gue suka cara authornya bawa ceritanya dengan plot yang perfectly well. Dari awal pengenalan karakter, pengenalan masalah, climax, sampe endingnya ditutup dengan sangat manis -which so worth of all the anxious feeling I've felt throughout reading it. Alurnya juga bisa dibilang maju-mundur, karena ada flashback di beberapa narasi. Terus ada momen yang kaya "abis ini ngaku nih salah satunya" tapi ternyata ada aja penghalangnya, mirip kaya baca "Love, Rosie" tapi versi sederhananya. Even though, if I'm being a 100% honest, gue agak bingung sama climaxnya karena gue mikir 'lo kan suka juga kenapa lo semarah ini'. Tapi mengingat si cewek denial at its finest dan takut untuk risk it all jadi ketika baca yang kedua kalinya, gue baru paham emosinya. 

Jujur, ini salah satu AU yang cukup realistis yang pernah gue baca. Quite complicated conflicts, bukan cuma dari lead charactersnya aja tapi juga dari pertemanan sama keluarga masing-masing karakter. Tapi somehow gak bikin gue males bacanya. Lula.. I gotta tell you that it's one hell of a roller coaster, what an emotional ride you took me with your writing. 

I'll give this one 10/10!

3.10.2019

Book Review: The Deal (Off-Campus #1) by Elle Kennedy

Synopsis:

She's about to make a deal with the college bad boy...

Hannah Wells has finally found someone who turns her on. But while she might be confident in every other area of her life, she's carting around a full set of baggage when it comes to sex and seduction. If she wants to get her crush's attention, she'll have to step out of her comfort zone and make him take notice... even if it means tutoring the annoying, childish, cocky captain of the hockey team in exchange for a pretend date.

...and it's going to be oh so good.

All Garrett Graham has ever wanted is to play professional hockey after graduation, but his plummeting GPA is threatening everything he's worked so hard for. If helping a sarcastic brunette make another guy jealous will help him secure his position on the team, he's all for it. But when one unexpected kiss leads to the wildest sex of both their lives, it doesn't take long for Garrett to realize that pretend isn't going to cut it. Now he just has to convince Hannah that the man she wants looks a lot like him.

Review:


To be honest, i have such a HUGE expectation on these books. People keep recommend it to me and i was like 'it has to be so good' not to mention these includes some hockey player, which i usually like. Tapiiii, i have to admit i kinda disappointed with the first book. I enjoy reading it sampe pertengahan –nope sampe bagian mau ke akhir mungkin sekitar 3/4 novelnya.

Ini buku pertama dari tetralogi Off-Campus by Elle Kennedy. Buku ini pake dua sudut pandang, POV Hannah (main female character) sama POV Garret (main male character). Ceritanya dimulai dari sudut pandang si Hannah Wells yang dapet nilai A di salah satu subjek disaat temen-temennya yang lain pada dapet nilai dibawah B. Hannah disini suka sama cowo anak football namanya Justin. Hannah ini bukan tipikal cewe famous, dia ambil jurusan musik dan dia ngerasa nyaman dengan dunianya sampe ketika Justin ini pindah ke kampusnya dia. Hannah disini ceritanya naksir berat sama Justin yang digambarin p e r f e c t sama Kennedy. Chapter selanjutnya ditulis dari sudut pandang Garret Graham, cowo pemain hockey yang keren abis. Tipe cowo yang ngedip aja bisa dapetin cewe manapun. He has it all. Money, fame, looks, brain, friends. Sampe satu ketika dia dapet nilai C di salah satu subjek. karena dia hockey player, dia gamungkin banget santai-santai aja dengan nilai C, which is failed. Nah mulai disini mereka ketemu.

Si Garret ceritanya lagi frustasi abis karena nilainya, terus dia gak sengaja ngeluarin audible groan, which makes Hannah jerk in surprise. Si Garret sadar ada yang kaget, nengoklah dia dan ngeliat si Hannah. Tapi disini Garret gak kenal sama Hannah. Dia baru sadar Hannah exist setelah si Hannah kaget. Disini digambarin kalo Garret check on her karena menurut Garret, Hannah ini 'A helluva lot cuter' dari apa yang sebelumnya Garret liat. Not to mention pretty face, dark hair, and smokin' body. Typical cowo-cowo player. Sampe akhirnya di satu situasi si Garret sadar kalo Hannah ini dapet nilai A di subjek yang dia gagal tadi. Dari sini si Garret akhirnya ngejar Hannah untuk jadi tutor dia biar dia bisa pass remedial testnya.  Si Hannah yang tadinya ngotot gak mau akhirnya luluh dengan satu kondisi yang cukup menguntungkan buat dia. Little did they knew they'll fall for each other.

Plotnya asik sih, not to fast not to slow. Yang paling penting gak back and forth. Kennedy gambarin kisah mereka dengan cara yang unik, jelas, and quiet steamy. Mungkin emang khasnya Kennedy kalo bikin novel tuh ada unsur sexualnya but too be honest, i quite uncomfortable reading it. Makanya ini harus 17+ sih pembacanya. Walaupun dibanding seriesnya yang Out of Uniform ini emang gak separah itu, but fuck if it doesn't make me hot in certain way. Gaya bahasanya 100% kusukakkk, bener-bener relate sama young-adult. Yang gue suka disini bener-bener dijelasin kalo si Garret suka sama Hannah dari sebelum Hannah agree to sleep with him. Jadi ini bukan typical cerita yang jatuh cinta karena sex. Physical attraction? yes, tapi at least si Garret gak yang minta 'jatah' keseringan terus jadi suka. Bukunya juga gak yang terlalu tebel atau terlalu tipis, standar untuk ukuran novel yang ceritanya cenderung light. Kennedy juga sangat baik dalam menggambarkan ceritanya, sampe gue bisa ngebayangin latarnya baik tempat maupun emosi dari para karakternya.

Ada beberapa awkward moment disini, salah satunya pas si Hannah ask Garret for having sex with her, geez i had to cringe while typed this. Emang ceritanya disini si Hannah punya pengalaman buruk soal sex karena satu hal yang kalo gue sebutin jadi spoiler parah. Tapi entah pas baca part dimana one kiss lead to another things gue agak kaya mikir 'kok maksa ya?' karena menurut gue dengan mengangkat genre romance, itu love scene gak ada romantis-romantisnya. Emang sih mereka gak ojok-ojok langsung have sex cuma tetep aja cringe.

Garret tokoh yang asik banget sih. Dia punya jiwa pemimpin, keliatan dari cara dia lebih dominan dalam ngambil keputusan di team-mates dia di hockey. Garret juga orang yang kocak abis dan faithful. Dia buka tipe cowo-cowo yang kalo marah bentak-bentak dll, ada satu konflik dimana dia karena marah terus cabut tapi pas liat Hannah nyamperin dia (situasinya lagi winter) si Garret berhenti langsung ngomel karena Hannah keluar cuma pake syal takut masuk angin katanya. Jujur gue baca novel ini i begin to love him, if only he really existed i would love him. Garret tipe cowo yang kalo sayang udah sayang banget dah galiat kemana-mana lagi. Dia juga tipe cowo yang gak pacaran. Hooking up? sure tapi dia ogah kalo harus mulai hubungan serius sama orang. I always find this type of story (cowonya gamau pacaran tapi akhirnya luluh karena terlanjur sayang sama cewenya) flattering. Garret juga pantang nyerah banget orangnya, walaupun dia bilang emang semua pemain hockey itu pantang nyerah. Tapi jelas aja si Garret punya kelemahan, despite how rich he is, bapaknya sinting. Sinting disini dalam artian abusive, muka dua dan maruk. Tapi dia kayanya 1 banding 500 orang dari keluarga broken yang bisa survive jadi manusia. Karena kayanya kekurangan dia cuma dia suka tidur sana sini tapi dari awal sampe akhir dia punya kepribadian yang T O P because i found myself had a crush on him.

Hannah tipe cewe yang cewe banget. Dia kerja sambil kuliah. Suaranya juga bagus, kalo kata Garret suaranya Hannah tuh 'chill' banget. Tapi bukan jenis suara yang put people into sleep. Mungkin mirip-mirip suaranya Hillary Scott vokalisnya Lady Antebellum kali ya? Digambarin di buku si Hannah ini cantik dan hot af. Dia juga bukan tipe cewe lemah yang kalo ditindas diem aja. Ada scene dimana dia ribut sama duet partnernya dia buat winter showcasenya. Sejujurnya, gue suka banget sama cewe model Hannah. Hell gue bener-bener ngeship mereka (Hannah-Garret) di buku ini. Sesempurna apapun gambaran Justin menurut hannah –karena menurut Garret si Justin ini brengsek banget, gue tetep ngeship Hannah sama Garret karena menurut gue cocok aja gitu. Mungkin lo harus baca sendiri supaya tau maksud gue cocok tuh gimana. TAPI... gue gak suka sama Hannah setelah 3/4 novel ini. Asli. Ada konflik yang membuat Hannah ini mundur dan akhirnya mereka putus. Konflik cliche yang, yaelah, kalo aja Hannah mau ngomong sama Garret mereka gak akan putus dan buang-buang waktu. Gue gak tau ada apa dengan orang yang kalo ada masalah langsung ambil keputusan sendiri, tapi gue bener-bener kesel banget baca 1/4 cerita terakhir. Please, ini jadi kek sok pahlawan gitu Hannahnya. I know you love him that much but you break his heart. Gue gak mikir si Hannah harus bodoamat sm threat dr pihak ketiga tapi maksud gue bisa gaksi lo omongin dulu dan jujur aja gitu ke cowo lo. Toh lo pacaran sama Garret bukan sama pihak ketiga ini jadi harusnya lo mengomunikasikan 'masalah' ini ke Garret ya gaksi? Huft kesal, sukanya menyimpulkan sendiri.

Cara mereka balikan juga gak banget asli. Ada satu scene dimana si Hannah kek cewe yang kesepian terus nelfon cowonya Allie, yang notabenenya sahabat si Hannah. Terus karena si Garret yang galau abis dia jadi melakukan hal inappropriate yang gue pas baca kaya 'apaansi?!'. Di akhir mereka emang jadian lagi dan walaupun gue sempet sebel sebelum endingnya tapi gue tetep suka secara keseluruhan sama buku satu ini.


Anyway, i'll rate 8.5/10 for this book dengan alasan akhirannya yang gue agak apaansi.