Synopsis:
She's about to make a deal with the college bad boy...
Hannah Wells has finally found someone who turns her on. But while she might be confident in every other area of her life, she's carting around a full set of baggage when it comes to sex and seduction. If she wants to get her crush's attention, she'll have to step out of her comfort zone and make him take notice... even if it means tutoring the annoying, childish, cocky captain of the hockey team in exchange for a pretend date.
...and it's going to be oh so good.
All Garrett Graham has ever wanted is to play professional hockey after graduation, but his plummeting GPA is threatening everything he's worked so hard for. If helping a sarcastic brunette make another guy jealous will help him secure his position on the team, he's all for it. But when one unexpected kiss leads to the wildest sex of both their lives, it doesn't take long for Garrett to realize that pretend isn't going to cut it. Now he just has to convince Hannah that the man she wants looks a lot like him.
Review:
To be
honest, i have such a HUGE expectation on these books. People keep recommend it
to me and i was like 'it has to be so good' not to mention these includes some
hockey player, which i usually like. Tapiiii, i have to admit i kinda
disappointed with the first book. I enjoy reading it sampe pertengahan –nope
sampe bagian mau ke akhir mungkin sekitar 3/4 novelnya.
Ini buku
pertama dari tetralogi Off-Campus by Elle Kennedy. Buku ini pake dua sudut
pandang, POV Hannah (main female character) sama POV Garret (main male
character). Ceritanya dimulai dari sudut pandang si Hannah Wells yang dapet
nilai A di salah satu subjek disaat temen-temennya yang lain pada dapet nilai
dibawah B. Hannah disini suka sama cowo anak football namanya Justin. Hannah
ini bukan tipikal cewe famous, dia ambil jurusan musik dan dia ngerasa nyaman
dengan dunianya sampe ketika Justin ini pindah ke kampusnya dia. Hannah disini
ceritanya naksir berat sama Justin yang digambarin p e r f e c t sama Kennedy.
Chapter selanjutnya ditulis dari sudut pandang Garret Graham, cowo pemain
hockey yang keren abis. Tipe cowo yang ngedip aja bisa dapetin cewe manapun. He
has it all. Money, fame, looks, brain, friends. Sampe satu ketika dia dapet
nilai C di salah satu subjek. karena dia hockey player, dia gamungkin banget
santai-santai aja dengan nilai C, which is failed. Nah mulai disini mereka
ketemu.
Si Garret
ceritanya lagi frustasi abis karena nilainya, terus dia gak sengaja ngeluarin
audible groan, which makes Hannah jerk in surprise. Si Garret sadar ada yang
kaget, nengoklah dia dan ngeliat si Hannah. Tapi disini Garret gak kenal sama
Hannah. Dia baru sadar Hannah exist setelah si Hannah kaget. Disini digambarin
kalo Garret check on her karena menurut Garret, Hannah ini 'A helluva lot
cuter' dari apa yang sebelumnya Garret liat. Not to mention pretty face, dark
hair, and smokin' body. Typical cowo-cowo player. Sampe akhirnya di satu
situasi si Garret sadar kalo Hannah ini dapet nilai A di subjek yang dia gagal
tadi. Dari sini si Garret akhirnya ngejar Hannah untuk jadi tutor dia biar dia
bisa pass remedial testnya. Si Hannah
yang tadinya ngotot gak mau akhirnya luluh dengan satu kondisi yang cukup
menguntungkan buat dia. Little did they knew they'll fall for each other.
Plotnya asik
sih, not to fast not to slow. Yang paling penting gak back and forth. Kennedy
gambarin kisah mereka dengan cara yang unik, jelas, and quiet steamy. Mungkin
emang khasnya Kennedy kalo bikin novel tuh ada unsur sexualnya but too be
honest, i quite uncomfortable reading it. Makanya ini harus 17+ sih pembacanya.
Walaupun dibanding seriesnya yang Out of Uniform ini emang gak separah itu, but
fuck if it doesn't make me hot in certain way. Gaya bahasanya 100% kusukakkk,
bener-bener relate sama young-adult. Yang gue suka disini bener-bener dijelasin
kalo si Garret suka sama Hannah dari sebelum Hannah agree to sleep with him.
Jadi ini bukan typical cerita yang jatuh cinta karena sex. Physical attraction?
yes, tapi at least si Garret gak yang minta 'jatah' keseringan terus jadi suka.
Bukunya juga gak yang terlalu tebel atau terlalu tipis, standar untuk ukuran
novel yang ceritanya cenderung light. Kennedy juga sangat baik dalam menggambarkan
ceritanya, sampe gue bisa ngebayangin latarnya baik tempat maupun emosi dari para
karakternya.
Ada beberapa
awkward moment disini, salah satunya pas si Hannah ask Garret for having sex
with her, geez i had to cringe while typed this. Emang ceritanya disini si
Hannah punya pengalaman buruk soal sex karena satu hal yang kalo gue
sebutin jadi spoiler parah. Tapi entah pas baca part dimana one kiss lead to
another things gue agak kaya mikir 'kok maksa ya?' karena menurut gue dengan
mengangkat genre romance, itu love scene gak ada romantis-romantisnya. Emang
sih mereka gak ojok-ojok langsung have sex cuma tetep aja cringe.
Garret tokoh
yang asik banget sih. Dia punya jiwa pemimpin, keliatan dari cara dia lebih
dominan dalam ngambil keputusan di team-mates dia di hockey. Garret juga orang
yang kocak abis dan faithful. Dia buka tipe cowo-cowo yang kalo marah
bentak-bentak dll, ada satu konflik dimana dia karena marah terus cabut tapi
pas liat Hannah nyamperin dia (situasinya lagi winter) si Garret berhenti
langsung ngomel karena Hannah keluar cuma pake syal takut masuk angin katanya.
Jujur gue baca novel ini i begin to love him, if only he really existed i would
love him. Garret tipe cowo yang kalo sayang udah sayang banget dah galiat
kemana-mana lagi. Dia juga tipe cowo yang gak pacaran. Hooking up? sure tapi
dia ogah kalo harus mulai hubungan serius sama orang. I always find this type
of story (cowonya gamau pacaran tapi akhirnya luluh karena terlanjur sayang
sama cewenya) flattering. Garret juga pantang nyerah banget orangnya, walaupun
dia bilang emang semua pemain hockey itu pantang nyerah. Tapi jelas aja si
Garret punya kelemahan, despite how rich he is, bapaknya sinting. Sinting
disini dalam artian abusive, muka dua dan maruk. Tapi dia kayanya 1 banding 500
orang dari keluarga broken yang bisa survive jadi manusia. Karena kayanya
kekurangan dia cuma dia suka tidur sana sini tapi dari awal sampe akhir dia
punya kepribadian yang T O P because i found myself had a crush on him.
Hannah tipe
cewe yang cewe banget. Dia kerja sambil kuliah. Suaranya juga bagus, kalo kata
Garret suaranya Hannah tuh 'chill' banget. Tapi bukan jenis suara yang put
people into sleep. Mungkin mirip-mirip suaranya Hillary Scott vokalisnya Lady
Antebellum kali ya? Digambarin di buku si Hannah ini cantik dan hot af. Dia
juga bukan tipe cewe lemah yang kalo ditindas diem aja. Ada scene dimana dia
ribut sama duet partnernya dia buat winter showcasenya. Sejujurnya, gue suka
banget sama cewe model Hannah. Hell gue bener-bener ngeship mereka
(Hannah-Garret) di buku ini. Sesempurna apapun gambaran Justin menurut hannah
–karena menurut Garret si Justin ini brengsek banget, gue tetep ngeship Hannah
sama Garret karena menurut gue cocok aja gitu. Mungkin lo harus baca sendiri
supaya tau maksud gue cocok tuh gimana. TAPI... gue gak suka sama Hannah
setelah 3/4 novel ini. Asli. Ada konflik yang membuat Hannah ini mundur dan
akhirnya mereka putus. Konflik cliche yang, yaelah, kalo aja Hannah mau ngomong
sama Garret mereka gak akan putus dan buang-buang waktu. Gue gak tau ada apa
dengan orang yang kalo ada masalah langsung ambil keputusan sendiri, tapi gue
bener-bener kesel banget baca 1/4 cerita terakhir. Please, ini jadi kek sok
pahlawan gitu Hannahnya. I know you love him that much but you break his heart.
Gue gak mikir si Hannah harus bodoamat sm threat dr pihak ketiga tapi maksud
gue bisa gaksi lo omongin dulu dan jujur aja gitu ke cowo lo. Toh lo pacaran
sama Garret bukan sama pihak ketiga ini jadi harusnya lo mengomunikasikan
'masalah' ini ke Garret ya gaksi? Huft kesal, sukanya menyimpulkan sendiri.
Cara mereka
balikan juga gak banget asli. Ada satu scene dimana si Hannah kek cewe yang
kesepian terus nelfon cowonya Allie, yang notabenenya sahabat si Hannah. Terus
karena si Garret yang galau abis dia jadi melakukan hal inappropriate yang gue
pas baca kaya 'apaansi?!'. Di akhir mereka emang jadian lagi dan walaupun gue
sempet sebel sebelum endingnya tapi gue tetep suka secara keseluruhan sama buku
satu ini.
Anyway, i'll
rate 8.5/10 for this book dengan alasan akhirannya yang gue agak
apaansi.