Synopsis:
Kata Milan, bukanlah laki-laki sempurna yang kecerdasannya melebihi Einstein, ketampanannya melampaui Leonardo DiCaprio, atau kekayaannya menyetarai Steve Jobs yang seorang wanita butuhkan. Itu memang bonus yang diidam-idamkan. Namun sebetulnya, bukan itu poin utamanya. Yang wanita butuhkan adalah kesediaan. Bersedia untuk selalu mengerti dan memahami, bersedia untuk menenangkan tanpa bertanya, dan kesediaan untuk mencintai tanpa memaksakan.
Kata Hilmy, duniamu masih terlalu sempit kalau berpikir mencintai adalah tentang hubungan timbal balik. Jika selalu begitu-memaksa memiliki seseorang yang dicintai, fase kehilangan seseorang yang belum pernah dimiliki akan selalu terulang, terus terulang. Biarkan semuanya mengalir seperti yang ditorehkan catatan takdir. Tak perlu memaksa semesta bergerak terlalu cepat, atau terlalu lambat. Semua ada porsinya masing-masing.
Review:
One of my favorite comfort books! Aslinya, ini dari AU dari salah satu author favorite gue, which is.... IJOSCRIPTS! Karya Ijoscripts -atau sekarang bisa kita sebut Nadia Ristivani, pertama yang gue baca adalah AU dia yang 'Hello, Cello'. Terus sambil nunggu book versionnya dateng, gue baca AU dia yang lain yaitu Hilmy Milan, yang ternyata gak kalah bagus dari 'Hello, Cello'. Terus kenapa gue review bukunya? Karena jujur gue lebih suka bukunya dibanding AUnya. Sebenernya sih gak beda jauh, cuma gak tau kenapa di gue versi bukunya lebih dapet feelnya. Abis baca AUnya, gue langsung beli versi bukunya dengan pemikiran "pasti bagus" mengingat 'Hello, Cello' gue juga langsung check out novelnya karena sebagus itu, dan ternyata beneran bagus.
Hilmy ini one of a kind deh, bener-bener definisi ada dan tiada. Beberapa sifatnya mungkin bisa lo temuin di real life, beberapa lagi mustahil ada di muka bumi. Contohnya: cara dia nyiramin air ke jok motornya supaya pas Milan duduk, joknya adem. Mungkin ada sih, mungkin gue aja yang belum nemu. Hilmy dideskripsikan sebagai pribadi yang friendly, saking friendlynya sampe temenan sama tukang somay, tukang tambel ban, tukang ice cream, bocil komplek, sampe ke nenek janda depan rumahnya. Dia juga kocak abis, bukan humoris lagi tapi comedian anjir. Entah kenapa tiap kata yang keluar dari mulut Hilmy tuh either nyelekit atau bikin ngakak. Hilmy juga cowok yang cerdik, dewasa, dan bijak. Dia tau batasan dan tau kapan harus ngambil tindakan. Hilmy physically bukan cowok ganteng banget, tapi attractive karena ada beberapa cewek yang naksir juga. Dia tajir, walaupun gak setajir Cello. Tapi cukup tajir ngeliat gimana dia bisa ngasih 200 ribu untuk 2 porsi siomay.
Milan in the other hand, a very very beautiful woman. Yaiyalah, secara dia sodara kembarnya Cello, cowok paling cakep sejagat raya. Mereka ini keturunan darah Italia, jadi bisa dibayangin secakep apa si Milan. Milan dideskripsikan sebagai wanita yang sangat sangat cantik, sangat pintar, dan tajir melintir. Intinya kalo ngebayangin Milan, mungkin bener-bener tipe cewek fiksi yang gak ada cela, dan bener-bener dia gak ada celanya di novel ini. Dia punya 3 cowok dirumah yang siap sedia buat bantu dia kapanpun dia butuh, dia punya kekayaan yang mungkin gak akan abis sampe tujuh turunan, tapi yang dia butuhin bukan itu. Kalo kata Milan, she has everything except modesty and warmth, which Hilmy could give to her in a heartbeat.
The whole story is all about hilmy yang PDKT ke Milan dengan sejuta ide uniknya, dan bagaimana akhirnya Milan mulai sadar dan luluh untuk nerima Hilmy. Konflik di novel ini sebenernya hampir gak ada, karena sifat Hilmy tadi yang tau kapan harus ambil tindakan. Gue personally seneng banget sama novel ini, dan udah berkali-kali baca ini buku sampe gue hafal beberapa dialog dan scenenya, because this one is the real definition of comfort book. Gue juga suka banget sama jawaban hilmy ketika ditanya sama Jonathan "Lo punya apa sampe berani deketin adek gue?", yang mana gak mau gue spoiler disini karena itu gemes banget.
Gue rasa Nadia ini baca buku-bukunya Esti Kinasih deh. Awalnya pas baca book version of 'Hello, Cello', gue sempet ngerasa "kok mirip Ari ya Cello ini?". Not like he did what Ari did but more like his vibes? Terus pas baca 'Hilmy Milan', ada scene dimana si Hilmy nutupin Milan dari matahari, which is VERY Ari! You can find the exact scene di 'Jingga Senja'. Situasinya beda, tapi caranya persis, like very similar. Anyway my point is, gue ngerasa kenapa gue suka banget sama karya-karya si Nadia slash Ijoscripts adalah karena gaya penulisan dia yang mirip sama my all-time favorite author, Esti Kinasih.
Cara si Hilmy nembak Milan bisa dibilang cringe-worthy, by email. But other than that, banyak banget scene yang bikin gue ketawa atau senyum-senyum sendiri. Sukaaaa bangettt sama sikap manisnya Hilmy yang cuma ditunjukin ke Milan, betapa pengertian dan perhatiannya Hilmy ke Milan, kadang amaze sendiri sama isi pikiran Hilmy karena kok bisa cowok yang keliatan selengean kaya dia bisa punya pemikiran sedewasa itu.
Anyway, I'll give this one 9.8/10.

No comments:
Post a Comment