Synopsis:
Jatuh cinta lagi?
Hmm, sepertinya itu tak ada lagi dalam kamus Helga. Kegagalannya dalam cinta dan selalu disakiti cowok, membuatnya merasa cukup! Untuk apa mengulangi semuanya lagi dari awal?
Sebagai seorang penulis, Helga selalu mengabadikan hal berkesan di hidupnya dalam bentuk buku. Dan di tengah proses penulisan buku keenamnya, ia dipertemukan dengan 'buaya' tampan- Cello.
Cello yang awalnya ingin mendekati Una- seorang gadis populer di kampusnya, justru terjebak dan makin dekat dengan Helga yang aneh dan ajaib karena sering berpikir dan bersikap terlalu random.
Namun siapa sangka, Cello malah makin penasaran dengan gadis yang hatinya membeku itu. Baginya, Helga merupakan sosok yang 'unik' dan belum pernah ia jumpai. Mampukah Cello, menaklukkan hati Helga?
Review:
I swear on my life, I've never been so excited for a book to arrive like EVER. Ini buku adaptasi AU pertama yang gue baca, yang langsung gue check out the moment I finished reading it. Terakhir gue sejatuh cinta itu sama karakter fiksi adalah when i was in 9th grade, gue sesuka itu sama karakter Matahari Senja by Esti Kinasih. Gue inget banget, I was so in love with the character sampe gue bikin playlist isinya lagu which remind me of Ari. Mungkin didukung dengan ada persamaan nama sama mantan gue dulu (lol), tapi pokoknya dulu gue sesuka itu. TAPI gue udah sayonara sama Ari, karena sekarang udah ada Cello. TMI, ini ke Cello gue juga sampe bikin playlist di Spotify HAHAHA.
Overall, buku dan AUnya gak banyak perbedaan. Plot dan karakternya sama jadi mungkin gak akan jauh beda sama review AUnya. Mungkin, di buku ini plotnya lebih detail aja. Ada beberapa scene -contohnya scene di lift, yang gak ada di AU tapi bikin ceritanya lebih make sense. Gue masih amaze sama cara Nadia bawa plot ceritanya dengan sangat mulus dan minim to zero plot holes. Seinget gue, konfliknya juga masih sama kaya yang di AU, tapi entah kenapa baca book versionnya malah lebih sedih woy?? Pas scene rooftop gue nelangsa sendiri bacanya ikutan mau nangis. Narasi pas after konser Tulus juga lebih nyelekit, perasaan sama tapi beda feelnya. OH sama scene pas Helga pulang kerumah terus ada temen-temen nyokapnya... gila bener-bener mau gue gampar aja maknya si Helga!!
Nadia sukses bikin gue bingung! Sampe detik ini, gue udah beli beberapa novel dari adaptasi AU atau Wattpad. Biasanya gue either prefer bukunya (mostly) atau AU/Wattpad versionnya. Kaya AU 'Terpikat', itu gue beli buku karena gue suka banget banget sama AUnya, tapi ternyata bukunya gak sesuai ekspektasi. Atau kaya 'Hilmy Milan', gue prefer bukunya dibanding AUnya. Tapi 'Hello, Cello' sukses bikin gue dilema, karena gue bener-bener gak bisa milih lebih suka yang mana. Dibilang lebih suka buku, ada beberapa scene di AU yang gak ada di buku tapi gue suka banget sampe nyariin di bukunya. Dibilang lebih suka AU, jujur gue lebih sering reread bukunya dibanding AUnya. Jadi intinya, ini cerita mau versi apa aja, gue tetep cinta banget dan akan reread terus.
Perbedaan paling mencolok ada dua: scene wishlist Helga yang di breakdown satu-satu, dan Camarro's Party dimana pertama kalinya Helga dateng dan jadi plus one-nya Cello. Tapi sebenernya, mau lo baca AU atau bukunya gue rasa gak begitu ngaruh perbedaannya karena sama sama bagus. Ada satu quote dari Cello yang mau gue spoiler disini: "I'm brutally in love with you. God gave me you and I want nothing after", KAYA?? ini harus di spoiler karena even lo gak bisa beli bukunya, at least lo harus tau se-romantis apa Marcellio Este!! Ini definisi buku yang isinya cuma bikin senyum-senyum sendiri. Gue baca ini buku ini udah 5x dalam rentang waktu setahun, terakhir baca di cafe pula, but it seems like I still can't hold myself back untuk gak senyum-senyum liat sikap Cello dan gak ngakak liat tingkah Helga.
Sama persis kaya versi AU, I'll rate 10/10 for this one, if not ∞/10.

No comments:
Post a Comment